Sabtu, 17 Januari 2009

PAGUYUBAN SUMARAH

PAGUYUBAN SUMARAH

Pendahuluan
Sufisme yang juga disebut sebagai mistisisme Islam yang berkembang di tanah jawa sangatlah beraneka ragam macam dan bentuknya, namun hampir semua kepercayaan yang dijalankan oleh orang jawa tidak mau disebut sebagai agama baru, namun kepercayaan saja, mereka tetap memeluk agama mereka masing-masing, namun mereka masuk dalam kepercayaan tertentu yang sangat banyak jumlahnya. Disini akan dibahas salah satu kepercayaan yang pertama kali muncul di daerah jogjakarta yaitu “Paguyuban Sumarah”, pada tahun 1935.
Guru serta pendiri pertama dari aliran kebatinan sumarah adalah R.Ng. Soekirnohartono, seorang pegawi Kesultanan Yogyakarta. Awal mula penyebaran ajaran kebatinan Sumarah adalah ketika R.Ng. Soekirnohartono merasa menerima wahyu yang diturunkan padanya dari Tuhan YME, dan berkewajiban untuk menyampaikan ajaran sumarah kepada semua manusia
[1].
Ajaran kebatinan ini merupakan ilmu kebatinan dengan jalan sujud sumarah (Menyerahkan Diri) mempelajari sampai terwujudnya penyatuan jiwa dengan Zat YME, tujuan utama ajaran ini adalah untuk mencapai kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat. Kesempurnaan hidup akan diperoleh manusia jika mereka berbuat baik terhadap sesama manusia, alam, dan berbakti terhadap Tuhan YME. Perbuatan baik akan mendapat balasan yang baik, demikian pula sebaliknya. Selain itu, juga diajarkan tentang wahyu, jati diri, patuh pada perintah, reinkarnasi, persekutuan dengan Allah dan bagaimana menjadi manusia seutuhnya.

Makna Sumarah
Sumarah dalam bahasa Jawa memiliki arti pasrah atau berserah diri yang apabila dikaitkan dengan perilaku hubungan antara manusia dengan Tuhan YME, maka sikap sumarah mengandung arti sikap batin yang pasrah total kepada Tuhan YME (Allah). Sudah barang tentu sikap demikian tidak berarti apatis atau masa bodoh, akan tetapi lebih tepat jika diartikan sebagai sikap tunduk, takluk dan patuh (manut mbangun miturut Jw.) kepada Tuhan YME.
Sikap batin yang demikian hanya akan terwujud pada manusia yang memiliki keyakinan akan adanya Tuhan YME, yang telah memberi kita hidup dan kehidupan, Tuhan yang menciptakan dunia raya seisinya. Tentu saja kadar ke-sumarah-an masing-masing orang akan berbeda satu sama lain, hal ini kiranya terjadi karena faktor tingkat keyakinan, tingkat kedewasaan jiwa, dan juga tingkat kesadaran yang dimiliki oleh masing-masing pribadi. Demikian pula latar belakang kondisi lingkungan, tingkat intelegensia serta keluasan wawasan juga ikut mempengaruhi kadar ke-sumarah-an tersebut disamping faktor-faktor yang lain.
Jadi kalau kita mengacu makna sumarah seperti yang diatas, maka orang sumarah secara prinsipil adalah setiap manusia yang pasrah secara total kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Jadi apapun keyakinannya, agamanya, etnisnya, apabila seseorang telah memiliki keyakinan seperti diatas maka dia disebut orang sumarah. Demikian pula tentang istilah kaum Sumarah predikat ini secara otomatis bisa diberikan kepada orang ataupun sekelompok orang yang batinnya telah bersikap pasrah total kepada Tuhan YME (yang tentu saja itu bisa tercermin dalam perilakunya setiap hari), walaupun tidak harus saling kenal ataupun terhimpun dalam suatu organisasi.
Hanya saja, karena di Indonesia ini sejak tahun 1950 telah berdiri organisasi Paguyuban Sumarah yang inti kegiatannya tidak lain adalah mempelajari, mempraktekkan sekaligus memperdalam ke-sumarah-an bagi seluruh anggotanya melalui bentuk ritual peribadatan rohani dan secara bersama-sama, maka menurut hukum yang berlaku setiap orang yang menjadi anggota Paguyuban Sumarah bisa mengklaim dirinya sebagai orang /kaum Sumarah. Adapun kalau kita bicara secara hakekat, kiranya belum satupun diantara sekian banyak anggota Paguyuban Sumarah yang merasa (berani menyatakan) dirinya telah menjadi orang Sumarah benar-benar. Karena semakin tinggi tingkat kesadaran kita maka terasa semakin banyak kekurangan yang ada pada diri kita.
[2]

Konsep Manusia Sumarah
Manusia yang pertma kali diciptakan oleh Tuhan YME adalah Adam dan Hawa. Namun keduanya tidak dipandang sebagai manusia riil, tetapi merekaadalah roh suci yang berasal dari Zat Yang MahaEsa dan badan nafsu yang berasal dari iblis
[3].
firdaus sebagai alam kehidupan Adam dan Hawa yang pertama, menurut ajaran Sumarah, diartikan sebagai Alam Suci. Godaan Iblis kepada Adam dan Hawa ketika masih bermukim di Firdaus, pada dasarnya adalah godaan badan nafsu untuk kepada roh suci agar menyekutukan Tuhan. Kemudian setelah iblis berhasil menggoda Adam dan Hawa (roh suci dan badan nafsu), maka mereka diusir dari Alam Suci (Firdaus) dan masuk ke dalam alam rahim (kandungan) wanita. Adam dan Hawa setelah keluar dari Firdaus dalam keadaan telanjang bulat (sebagai lelaki dan perempuan), diartikan bahwa sesudah bayi lahir dalam keadaan telanjang baru dapat diketahui jenis kelaminnya.
Manusia menurut ajaran Sumarah terdiri dari: badan wadah (jasmani), badan nafsu,, dan jiwa (roh). badan wadah, merupakan unsur jasmani atau fisik manusia yang tersusun dari empat anasir, yaitu tanah, air, dan udara. badan nafsu (emosiaonal body) merupakan percikan Tuhan dengan perantara iblis. menurut ajaran Sumarah, manusia emiliki empat macam nafsu, yaitu: (1) nafsu mutmainah, sebagai sumber semua perbuatan baik dan alat untuk menemukan Tuhan; (2) nafsu Amarah, yaitu sumber kemarahan dan kedurhakaan; (3) nafsu Suwiyah, merupakan sumber erotik, pengundang birahi; (4) nafsu Lawamah, smber egoisme dalam diri manusia.
Disamping kelengkapan nafsu, manusia juga memiliki jiwa atau roh yang berasal dari Roh Suci (Tuhan). Rasa (dzauq) sangat terkait dengan jiwa, terdapat di dalam dada. Di dalam dada jantung, di dalam jantung terdapat Masjidil Haram, tempat Baitullah. di dalam Baitullah terdapat budi, nur. Dengan demikian, hakekat manusia bukan hanya wujud jasmani saja, tetapi juga memiliki wujud gaib dan wujud yang gaib lagi
[4].
Melihat ajaran Sumarah tentang manusia, terlihat adanya pengaruh ajaran Serat Wirid Hidayat Jati R. Ng. Ranggawarsita. Dalam Serat Wirid, Ranggawarsita memberikan penjelasan tentang proses penciptaan manusia. Ajaran ini menurut Samidi Khalim merupakan aplikasi dari ajaran R.Ng. Ranggawarsita yang tertuang dalam Serat Wirid.

Sujud Sumarah
Sujud Sumarah adalah bentuk perilaku peribadatan (ritual) bagi para warga Paguyuban Sumarah dalam rangka berkomunikasi dengan Tuhan YME yang pada hakekatnya merupakan aktivitas batin/rohani/spiritual/jiwa si manusia untuk bermohon, menghaturkan bakti/sembah, menghaturkan puja dan puji serta serah diri total kepada Tuhan YME, melalui kehendak dan tuntunan /bimbingan Tuhan YME sendiri.
Karena sifatnya yang sangat spiritual (rohani) maka dalam pelaksanaannya Sujud Sumarah sama sekali tidak memerlukan persyaratan lahiriah baik tempat, waktu, pakaian, bebauan, gerakan-gerakan khusus ataupun persyaratan lain-lain (termasuk hafalan mantra dsb.), namun tentu saja sebagai manusia yang berbudaya, dalam berbusana maupun sikap tata lahir dalam sujud akan selalu mengikuti norma kewajaran dan kepantasan, demikian pula akan selalu memperhatikan norma-norma sosial dan etika yang berlaku di sekelilingnya tanpa harus menonjolkan dirinya.
Sujud Sumarah memiliki jenjang atau tingkatan yang harus dilakukan oleh para pengikut secara bertahap. Adapun tingkatan tersebut adalah:
Tingkat pamagang, yaitu sujud yang dilakukan oleh para pemula sebelum resmi menjadi anggota, untuk menenangkan panca indra.
Tingkat satu, sujud ini merupakan sujud awal yang dilakukan oleh pengikut Sumarah setelah resmi dibaiat mengadi anggoata.
Tingkat dua, dilakukan setelah mahir pada sujud satu.
Tingkat tiga, dilakukan setelah mahir dalam sujud kedua.
Tingkat keempat, dilakukan setelah anggoat mahir sujud tingkat tiga.
Tingkat lima, sebagai tingkat paling akhir yang langsung dibimbing dan diimami oleh pemimpin (guru utama).
Dari jenjang atau tingkat sujud tersebut, para pengikut Sumarah dapat dikelompokkan dalam tiga martabat, yaitu: 1) Martabat Tekad, yaitu martabatnya para pemagang, tingkat satu dan tingkat dua. 2) Martabat Imam, yaitu para pengikut yang sudah memasuki tingkat sujud tiga dan empat. 3) Martabat Sumarah, yaitu mereka yang sudah memasuki tingka sujud kelima
[5] .

Etika Hidup Sumarah
Dalam kehidupan sehari-hari, ajaran Sumarah mengajarkan pada umatnya untuk dituntut berbuat baik terhadap siapa sja, tanpa memandang agama, ras, etnis, atau bangsa. Berbuat baik terhadap siapa saja berarti berbuat baik terhadapa diri sendiri dan juga Tuhan. Oleh sebab itu ajaran etika yang sekaligus menjadi keyakinan Sumarah adalah mereka percaya penuh adanya karma (buah dari amal perbuatan).
Istilah karma (dari bahasa Sansekerta) yang berarti perbuatan dan pahala (hasil), akan didapat oleh setiap orang sesuai perbuatannya. Hasil atau karma dari setiap perbuatan akan diterima oleh si pelaku bahkan sampai keturunannya, baik dalam kehidupan di dunia sekarang atau setelah mati.
Selain ajaran karma, etika hidup Sumarah juga dilandaskan pada konsep reinkarnasi (kelahiran kembali). Ajaran reinkarnasi yang bermula dari ajaran agama Hindu, yaitu samsara yang berarti kelahiran manusia yang berulang-ulang atau disebetu juga menitis.
Manusia akan mengalami kelahiran kembali ke alam dunia ini karena selama hidup di dunia dia lebih banyak bebuat buruk atau jahat. Inti jiwa manusia (jiwatman) yang masih lekat dengan urusan keduniaan tidak akan dapat bersatu kembali dengan asal mula hidupnya, yaitu Tuhan YME. Jika seseorang sudah mampu memebaskan jiwatman-nya maka dia akan mampu moksa, mencapai pelepasan untuk bersatu kembali dengan Tuhab sang sumber hidup.

Pergumulan Islam Dengan Mistik Jawa
Sejak Abad ke-13 M sudah terjadi dialog yang erat antara nusantara dengan Timur Tengah melalui jalur perdagangan, hal ini menimbulkan suatu budaya baru yang kemudian membawa perubahan yang cukup besar dan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan masyarakat. Norma Religi dan realitas sosialnya yang khas Islami berbaur dengan budaya, adat dan tradisi Jawa.
Dalam kebatinan Sumarah terdapat berbagai hal yang berasal dari Islam, namun tidak di terima begitu saja, maka terjadilah akulturasi kebudayaan, baik dalam sisitem kepercayaan maupun yang lain. Di dalam ajaran Sumarah sendiri terdapat banyak hal yang masih mempunyai unsur keislaman seperti percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, Adam dan Hawa sebagai makhluk pertama di bumi, Sumarah sendiri mempunyai makna yang kurang lebih sama dengan kata Tawakkal dalam Islam.
Namun tidak dapat di pungkiri, di dalam ajaran Sumarah masih banyak juga ajaran yang berasal dari Hindu-Budha, semisal adanya Reinkarnasi setelah kematian, ini adalah kepercayaan yang di pahami oleh Hindu-Budha, namun masih di pakai dalam ajaran Sumarah.
Paguyuban Sumarah merupakan perpaduan antara kedua kebudayaan diatas, antara budaya Islam dengan budaya Jawa yang mana Jawa disini sudah tercampur dengan paham Hindu-Budha. Maka pada akhirnya munculah suatu kepercayaan yang didalamnya mengandung unsur Islam sekaligus unsur budaya Jawa.




Penutup
Sumarah sebagai suatu ilmu pendekatan kepada Tuhan YME adalah salah satu jalan/cara penghambaan kepada Tuhan YME, yang amat sangat sederhana dan mungkin bisa dilakukan oleh siapa saja yang berminat, asalkan telah tertanam dalam hati satu keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Islam yang masuk ke Jawa mengalami banyak hambatan, namun pada akhirnya dapat menyatu dengan budaya Jawa yang sarat dengan Animisme-Dinamisme dan Hindu-Budha.

Daftar Pustaka
1. Samidi Khalim, Islam & Spriritualitas Jawa, RaSAIL, Semarang, 2008, hal. 104
2. Al Hafidy, M. As`ad, Aliran-aliran Kepercayaan dan Kebatinan di Indonesia, Jakarta, Ghalia Indonesia 1997.
3. http://id.sumarahway/blogspot/htm
4. Rahnip, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Dalam Sorotan, Surabaya, 1984, Pustaka Progresif.








[1] Samidi Khalim, Islam & Spriritualitas Jawa, RaSAIL, Semarang, 2008, hal. 104
[2] http://id.sumarahway/blogspot/htm
[3] Rahnip, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Dalam Sorotan, Surabaya, 1984, Pustaka Progresif. hal.33
[4] ibid, hal. 105
[5] Al Hafidy, M. As`ad, Aliran-aliran Kepercayaan dan Kebatinan di Indonesia, Jakarta, Ghalia Indonesia 1997. hal.67

2 komentar: